Kenali Fungsi, Cara Kerja, dan Jenis Power Steering pada Mobil

Power steering merupakan sistem kemudi pada mobil yang membantu pengemudi untuk mengendalikan setirnya. Sistem ini bekerja dengan cara meringankan putaran kemudi sehingga pengemudi tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra saat akan berbelok.

Baca juga: Kenali Pentingnya Tune Up Mobil, Berikut Proses Pengerjaannya

Fungsi dan Cara Kerja Power Steering


Mengendalikan setir adalah salah satu hal paling menantang yang dialami oleh setiap pengemudi mobil, terutama jika Anda baru belajar menyetir. Secara teknis, Anda memerlukan perubahan sudut roda guna meringankan pengaturan arah kemudi.

Dahulu, pengemudi harus mengerahkan seluruh tenaganya saat akan membelokkan kemudi dan harus mengerahkan tenaga besar lainnya untuk mengembalikan kemudi ke posisi semula. Hal tersebut tentu sangat berat dan melelahkan, terutama jika pengemudi menempuh rute yang mempunyai banyak kelokan atau belokan tajam. Namun kini, hampir seluruh mobil produksi baru sudah dilengkapi dengan sistem kemudi yang lebih mutakhir. Anda pun tak perlu mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk menggerakkan setir ke kanan dan kiri serta mengembalikannya ke posisi semula sesuai kebutuhan.

Keberadaan sistem ini tidak hanya mengurangi besarnya usaha kemudi yang Anda lakukan. Lebih dari hal tersebut, sistem kemudi ini juga akan menjaga kestabilan sangat tinggi selama pengemudian serta mengurangi resiko guncangan akibat permukaan jalan yang tidak rata.

Namun, bagaimana sebenarnya sistem ini bekerja?

Cara kerja power steering dapat dibedakan dalam dua posisi utama, yakni posisi netral dan posisi saat membelok. 

Saat katup dalam posisi netral, maka minyak akan dialirkan melewati katup pengontrol (control valve)  saluran pembebas (relief port) kemudian kembali ke pompa. Dalam kondisi ini, torak tidak bergerak dan tidak ada terbentuk tekanan dengan area tekanan kedua sisi sama.

Sementara itu pada posisi membelok, poros utama kemudi (steering shaft) diputar ke salah satu arah katup pengontrol juga turut bergerak menutup salah satu aliran minyak. Saluran lain akan terbuka sehingga terjadi perubahan volume aliran minyak sehingga akhirnya menyebabkan timbulnya tekanan. Kedua sisi torak pun mengalami perbedaan tekanan sehingga torak bergerak ke sisi yang memiliki tekanan lebih rendah. Akibatnya, minyak dalam ruangan tersebut akan mengalir kembali ke pompa melalui katup pengontrol.

Perbedaan Power Steering Hidrolik dan Elektrik

Berdasarkan prinsip kerjanya, ada dua jenis power steering, yakni hidrolik dan elektrik.

1. Hidrolik

Sistem kemudi ini memanfaatkan tekanan oli dan masih menjadi jenis yang paling banyak digunakan karena performanya dinilai masih cukup mumpuni. Anda dapat menemukan dua model untuk jenis ini, yakni recirculating ball dan rack and pinion. Adapun pilihan yang lebih banyak digunakan adalah model rack and pinion.

Komponen utama jenis hidrolik terdiri dari pompa, reservoir air, pipa dan selang, dan steering rack assembly.

A. Pompa

Bagian ini berfungsi menghasilkan daya dan tekanan oil power steering sehingga menekan piston dalam power steering rack assembly. Adapun elemen yang memutar pompa adalah mesin mobil menggunakan fanbelt.

B. Reservoir Air

Bagian ini berfungsi untuk menampung oli power steering. Reservoir merupakan komponen sistem kemudi yang paling sering dicek melalui volume oli di dalamnya.

C. Pipa dan Selang

Bagian ini berfungsi mengalirkan tekanan yang diperoleh dari pompa. Pabrikan mobil biasanya menggunakan pipa dan selang yang memiliki model seperti pipa dan selang AC. Hal tersebut disesuaikan dengan tekanan sistem kemudi yang harus kencang sehingga pipa dan selang yang digunakan haruslah kuat.

D. Rack Assembly

Bagian ini yang berfungsi untuk meringankan tenaga pengemudi ketika memutar setir. Adapun rack assembly terdiri dari tiga perangkat utama yakni rotary control valve, pressure chamber, dan rack and pinion linkage.

  • Rotary control valve memiliki peran dalam pengaturan arah tujuan dari oli yang bertekanan menuju pressure chamber. Adapun arah tujuan disesuaikan dengan putaran roda.
  • Pressure chamber memiliki peran dalam mendorong piston yang menjadi satu dengan steering rack shaft.
  • Rack and pinion linkage memiliki peran dalam meneruskan putaran roda langsung ke roda. 

2. Elektrik

Sistem kemudi ini juga dikenal dengan istilah electronic power steering atau EPS. Sistem elektrik merupakan pengembangan dari sistem otomatis yang sudah diatur menggunakan komputer sehingga tidak ada lagi penggunaan cairan atau oli. 

Cara kerja sistem kemudi elektrik jauh lebih sederhana dibandingkan cara kerja sistem kemudi hidrolik. Ketika mesin menyala, electronic control module (ECM) akan mendapat suplai arus listrik dari baterai dan meneruskannya ke clutch. Bagian main shaft dan motor steer akan terhubung. Saat pengemudi membelokkan kemudi, maka sensor akan mendeteksi seberapa besar momen puntir yang diterima.

Secara umum cara sistem kemudi elektrik juga lebih efektif dibandingkan sistem kemudi hidrolik. Kendati begitu, komponen pada sistem elektrik lebih banyak, yakni meliputi ECM, motor listrik, torque sensor, steering clutch, noise suppressor, dan on board diagnostic.

A. Electronic Control Module

Bagian ini merupakan otak dari EPS, yakni berfungsi memberi perintah kepada komponen lainnya.

B. Motor Listrik

Bagian ini bekerja menggerakkan sistem kemudi secara langsung yang diperintah oleh ECM.

C. Torque Sensor

Bagian ini berfungsi sebagai pemberi informasi ketika setir mulai diputar.

D. Steering Clutch

Bagian ini berperan dalam menghubungkan dan melepaskan motor kemudi dengan batang kemudi.

E. Noise Suppressor

Bagian ini akan mendeteksi apakah mesin sedang bekerja atau tidak.

F. On Board Diagnostic

Bagian ini akan memberi informasi apabila EPS sedang mengalami gangguan.

Penyebab Sistem Kemudi Cepat Rusak


Fitur sistem kemudi juga tidak lepas dari risiko kerusakan. Beberapa tanda awal yang dapat Anda amati jika bagian ini bermasalah antara lain kemudi yang jadi sulit digerakkan, adanya getaran pada roda kemudi, posisi kemudi tidak presisi, adanya kebocoran minyak sistem kemudi, warna minyak sistem kemudi berubah, dan terdengar suara saat memutar kemudi.

Lantas, apa saja hal yang menyebabkan fitur ini jadi cepat rusak?

1. Tekanan Udara pada Ban Kurang 

Apabila tekanan udara pada ban rendah, maka gesekan antara ban mobil dengan aspal akan lebih besar. Hal tersebut menyebabkan kerja sistem jadi lebih berat. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk selalu memastikan tekanan udara pada ban cukup sebelum menggunakannya sehingga dapat meminimalkan kerja sistem kemudi.

2. Cara Mengemudi Sembarangan

Anda suka menerobos jalan yang rusak tanpa mengurangi kecepatan dan kini mengalami tanda-tanda sistem kemudi bermasalah? Ketidak hati-hatian tersebut memang bisa jadi penyebabnya. Saat melalui jalan yang rusak dengan tidak pelan-pelan dapat menyebabkan celah rack steer menjadi besar sehingga power sistem kemudi tidak optimal.

3. Tidak Mengganti Cairan Secara Rutin

Tiap cairan dalam komponen mobil harus diganti setiap beberapa periode sekalipun demikian untuk sistem kemudi. Untuk jenis hidrolik misalnya, Anda perlu mengganti setiap 40.000 km.

4. Menerobos Jalanan Banjir

Hindari melewati jalan dengan genangan air yang tinggi. Hal ini sebenarnya tidak bermasalah selama sil tidak rusak. Namun jika sil bermasalah, maka resiko air masuk ke dalam rack steer akan tetap ada dan membuat sistem berkarat.Demikianlah informasi mengenai power steering. Mengingat betapa pentingnya fitur ini dalam memudahkan dan meningkatkan kenyamanan Anda dalam berkendara, pastikan untuk melakukan perawatan yang tepat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *